Serunya Berwisata Budaya ke Madura

Jembatan SuramaduSurabaya – Madura

Budaya Madura sangat unik dan beragam, berkembang senafas dengan perekonomian masyarakatnya. Budayawan Madura asal Pamekasan Kadarisman Sastrowardoyo pernah berkata. “Objek wisata alam yang ada di Madura ini tidak seberapa banyak. Akan tetapi dari sisi budaya, Madura sangat kaya.”

Atraksi Karapan Sapi Madura
Atraksi Karapan Sapi Madura

Budaya masyarakat Madura memang  unik dan beragam. Mulai dari  Bangkalan, kabupaten yang berada di ujung barat, sampai Sumenep di  ujung timur, terdapat bermacam  budaya yang masih lestari. Budaya itu berkembang seiring  senafas dengan perekonomian masyarakat.

Inilah Budaya dan Tempat Wisata Unik di Madura:

  • Pesta Karapan Sapi
  • Ramuan “Joss” Madura
  • Batik Gentongan Corak Khas Madura
  • Wisata Kuliner Nasi Petis Madura
  • Soto Khas Madura
  • Wisata Alam Madura
  • Menikmati Sunset Taman Laut Mamburit dan Gilibadak
  • Jembatan Suramadu, Ikon Wisata Baru Surabaya – Madura
  • Suku Perantau Asal Madura

Pesta Karapan Sapi Madura

Wisata Budaya Karapan-Sapi-Madura
Wisata Budaya Karapan-Sapi-Madura

Kesadaran akan potensi budaya ini belakangan muncul di kalangan Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten  Bangkalan misalnya, mulai serius menggelar lomba karapan sapi setiap bulan demi menarik kunjungan lebih banyak wisatawan.  Pesta rakyat  tahunan yang biasanya diselenggarakan setiap bulan Agustus tersebut akhirnya dikembangkan sebagai wisata kebanggaan rakyat.

Padahal bagi masyarakat Madura, pacuan ini merupakan tradisi turun temurun dan prestise yang bisa mengangkat martabat pemenangnya.  Dan menurut ukuran acaranya, ada beberapa jenis kerapan. Mulai dari kerrap kei (karapan kecil), kerrap raja (kerapan besar), kerrap onjangan (kerapan undangan), dan kerrap jar-ajaran (kerapan latihan).

Tak ada sejarah tertulis yang mencatat, namun berdasarkan sumber lisan, Karapan Sapi pertama kali dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau Sapudi, Sumenep pada abad 13. Pangeran ini adalah pemimpin yang memperkenalkan cara membajak sawah dengan sapi. Dan sebagai ungkapan rasa gembira pada akhir masa panen,  Pangeran mengajak warga desa untuk mengadakan balapan sapi di areal sawah bekas panen. Akhirnya balapan sapi gagasan Pangeran Ketandur ini menjadi tradisi yang hingga kini terjaga kelestariannya.

Sapi kerap biasanya memiliki ciri khusus. Antara lain berdada air artinya kecil ke bawah, berpunggung panjang, berkuku rapat, tegar tegak serta kokoh, berekor panjang dan gemuk. Pemeliharaan untuk membentuk tubuhnya juga butuh perlakuan spesial. Masalah makanan dan kesehatan mendapatkan perhatian khusus, bahkan pada saat-saat tertentu mereka diberi aneka jejamuan.  Sehari-hari  sapi kerap diberi puluhan telur ayam kampong yang jumlahnya ditingkatkan menjelang datangnya hari pacuan.

Seringkali biaya perawatan (yang bisa mencapai Rp4 juta/bulan) tidak sebanding dengan hadiah kemenangan yang diperoleh. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi pemiliknya, karena selain menjadi kebanggaan, sapi yang sudah menang harganya bisa melambung tinggi.

Namun jangan salah, bukan hanya disayang-sayang,  pelakuan pemilik menjadi berbalik ‘sadis’ ketika hari pacuan hampir datang. Agar berlari cepat,  pantat sapi biasanya diparut dengan paku hingga kulitnya berdarah.  Bahkan setelah itu kadang-kadang lukanya dikucuri sambal. Belum cukup di situ, daerah sekitar mata biasanya juga diolesi balsam panas.

Sehari sebelum lomba, pasangan sapi, pemilik dan sejumlah kerabatnya ikut menginap di tenda yang terpasang di lapangan. Layaknya lomba basket masa kini, mereka biasanya juga punya cheersleader yang berupa kelompok music tradisional Saronen yang akan menyemangati ketika pasangan sapi diarak menjelang pertandingan. Bahkan tak jarang dalam kelompok itu terselip seorang dukun yang akan memberikan bantuan spiritual.

Pesta Karapan sapi Madura
Pesta Karapan sapi Madura

Satu rombongan peserta karapan yang dibawa pemilik sapi  biasanya terdiri dari tukang tongko (joki), tukang tambeng (bertugas menahan, membuka dan melepaskan rintangan untuk berpacu), tukang gettak (penggertak sapi dengan cara bersorak-sorai di tepi lapangan), tukang ngeba tali  (pembawa tali kendali sapi dari start sampai finish), tukang nyandak (orang yang bertugas menghentikan lari sapi setelah sampai garis finish), dan tukang tonja (orang yang bertugas menuntun sapi).

Para penggila karapan sapi melakukannya secara habis-habisan demi sebuah gengsi atau prestise yang merupakan watak khas orang Madura. Sebagai pesta rakyat, karapan sapi selalu menarik minat masyarakat banyak yang berbaur dalam eforia yang sportif.

Tak ubahnya pacuan kuda, sisi lain yang menarik penonton karapan sapi adalah kesempatan untuk memasang taruhan. Nilainya bervariasi dari angka ribuan sampai puluhan bahkan ratusan juta. Biasanya penonton yang berdiri sepanjang arena justru bertaruh dalam jumlah kecil. Petaruh besar sebagian besar duduk di podium atau melihat dari kejauhan.  Transaksi mereka dilakukan di luar arena, dan biasanya berlangsung malam hari sebelum karapan sapi dimulai.

Pemilik sapi karapan akan memperoleh gengsi tinggi  jika peliharaannya memenangkan lomba. Selain itu harga sapi kerrap miliknya langsung akan meroket, bisa lima kali lipat dari harga sebelum pertandingan. Maka pantaslah jika para maniak karapan sapi selalu mencari bibit sapi unggul dari Sapudi, pulaunya Pangeran Ketandur yang merupakan gudang sapi unggulan.

Berbeda dengan  Karapan Sapi, Sapi Sonok yang dikembangkan Pemda Kabupaten Pamekasan  merupakan ‘kontes kecantikan’ sepasang sapi betina. Sapi-sapi peserta kontes ini dihiasi aneka  kostum berwarna-warni, yang digemari orang Madura.  Kriteria penilaian sapi Sonok antara lain didasarkan pada keanggunan dan keselarasan ketika sapi berjalan dengan arah lurus ke depan, dan kesesuaian langkah yang seirama dengan music pengiring.

Sapi peserta kontes Sonok berbeda dengan sapi untuk membajak sawah. Ia sudah dipersiapkan sejak baru lahir dan mendapatkan perhatian ekstra.  Selain rumput sebagai pakan utama, Sapi Sonok juga mendapat ramuan khusus yang terdiri dari terdiri dari 10-15 butir telur ayam kampung, kunyit, gula merah, dan dicampur dengan jamu sehat dari madura. Mendekati satu minggu sebelum kontes jumlah telur ayam kampung yang diberikan biasanya ditingkatkan hingga dua kali lipat.

Sapi Sonok juga harus rajin dimandikan di pandokan (tempat khusus untuk memandikan sapi) dua kali sehari. Saat dimandikan bulu dan kulitnya disabuni agar lembut, setelah itu seluruh badannya dipijat oleh sang perawat.  Sapi-sapi itu harus bersih dan cantik secara fisik, bulu-bulunya pun selalu dipotong pendek dan rapi.  Khusus untuk perawatan ini, pemiliknya tak segan membayar pekerja professional. Selain meberikan perhatian lebih pada kondisi tubuh sapi, joki ini juga bertugas melatih keselarasan dan olah gerak sapi Sonok.

BACA JUGA :  Pesona Wisata Bandung, Gunung Tangkuban Perahu

Ramuan “Joss” Madura

Jamu ramuan Madura
Jamu ramuan Madura

“Ramuan Madura..” ujar Nanny Wijaya dengan senyum simpul seraya masuk kamar. Anda yang berusia di atas 40 tahun mungkin masih ingat adegan dalam TV Komersial yang ditayangkan TVRI puluhan tahun silam itu

Selama puluhan tahun, popularitas ramuran Madura seolah identik dengan kemampuan wanita dalam memuaskan pasangannya di ranjang. Jika ada googling dengan  kata kunci ramuan Madura, maka akan muncul nama-nama berkonotasi hubungan suami istri  yang terdengar cukup vulgar, semacam Sari Rapat, tongkat Madura, jamu Empot-empotan dan semacamnya.

Dalam budaya wanita Madura, service bagi suami mendapat perhatian istimewa. Bahkan sejak masa gadis, orang tuanya sudah membekali dengan berbagai petuah tentang bagaimana memelihara memelihara badan dan kewanitaan agar tidak mengecewakan suaminya kelak.

Beberapa pantangan disampaikan untuk para gadis. Antara lain makanan bersifat sejuk atau dingin seperti timun, apel, limpa kambing, semangka, mangga masak, pisang ambon, sayap ayam, labu dan terung merah. Konon jenis-jenis makanan tersebut bisa mendinginkan nafsu dalam hubungan intim dan membuat kewanitaan tidak kesat. Mereka juga dianjurkan minum air masak yang dicampur madu setiap bangun pagi. Selain itu setiap minggu ada jadwal minum air tajin (air didihan beras yang tengah ditanak) seminggu sekali, serta minum jami seminggu dua kali.

Kebiasaan minum jamu begitu melekat pada keseharian wanita Madura. Kaum ibu banyak yang berpendapat lebih baik tidak makan daripada tidak minum jamu sehari saja. Cara minum jamunya pun ada aturan sendiri.  Para peracik menganjurkan agar jamu itu diminum sambil berdiri. Tak ada yang tahu persis apa maksudnya, tapi aturan itu masih dipatuhi sampai sekarang.

Dalam bukunya “Membedah Rahasia Ramuan Madura” dr Lestari Handayani, Med (Mph) dari Puslitbang Departemen Kesehatan menulis bahwa sebenarnya sangat banyak resep ramuan dan jamu Madura yang diperuntukan bagi berbagai keperluan. Selain yang berhubungan dengan kesehatan badan, ada juga ramuan untuk menjaga dan merawat bayi, perawatan wanita selepas melahirkan, juga berbagai racikan untuk kaum pria. Namun akibat minimnya informasi, yang menggaung di luar adalah fungsinya sebagai aphrodisiac.

Ramuan tongkat Madura yang terkenal
Ramuan tongkat Madura yang terkenal

Coba saja, mereka punya ramuan alami untuk menjarangkan kelahiran dan menyuburkan kandungan. Seorang pembuat jamu di Sumenep mengatakan bahwa banyak perempuan di daerahnya yang hanya punya anak satu atau dua orang padahal tidak menggunakan kontrasepsi modern. Hal itu lantaran mereka rajin minum jamu untuk mengecilkan peranakan yang biasanya dibuat sendiri dan diminum setelah selesai menstruasi.

Sebaliknya untuk ibu-ibu yang kurang subur justru tidak dianjurkan minum jamu yang bersifat sepat karena bisa mengeringkan kandungan. Agar cepat hamil mereka harus minum jamu dingin yang biasanya mengandung daun-daunan seperti daun beluntas dan terawas.

Sejak kecil anak-anak Madura juga sudah dibiasakan minum jamu. Umur 5 tahunan, mereka dikenalkan dengan jamu Sinom yang berasa asam manis segar dari daun asam muda ditambah gula aren dan beras kencur, Kadang-kadang juga diberikan rasa pahit temu ireng untuk mencegah cacingan. Sebagai ganti minum teh diberikan ramuan temu lawak yang direbus dengan  gula aren atau gula jawa.

Ramuan Madura tidak seharum jamu Jawa dan lebih berbau rempah-rempah sehingga rasanya pun lebih pahit. Rasa pahit inilah yang dipercaya memberikan khasiat  lebih dibandingkan ramuan/jejamuan dari daerah lain.   Ciri khas lain dari ramuan Madura, tambah dr Lestari, adalah penggunaan cuka legen yang berasal dari pohon enau. Cuka ini didapatkan dari penyimpanan legen minimal satu minggu sehingga terjadi fermentasi. Bagi yang tidak suka, cuka bisa diganti jeruk nipis. Campuran lainnya tidak berbeda dengan jamu jawa yaitu madu dan kuning telur ayam. Namun kaum pria biasanya lebih suka telur angsa yang ukurannya besar.

Sangat banyak produk  ramuan Madura yang beredar di pasaran maupun ditawarkan di internet. Namun sebagai konsumen anda tetap perlu berhati-hati mengingat semakin banyak beredar produk jamu yang tidak memiliki ijin dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM). Paling penting perhatikan kandungannya, jangan pilih yang mengandung zat pewarna, hormon sintetis serta alcohol. Lihat juga kemasannya dan belilah hanya yang sudah terdaftar di Depkes RI.

 

Batik Gentongan Corak Khas Madura

Batik Gentongan Madura Dengan Corak Khas
Batik Gentongan Madura Dengan Corak Khas

Ada oleh-oleh special lagi yang patut anda buru jika ke Madura.  Batik Gentongan. Batik ini benar-benar khas Madura, cantik dengan warna-warni ekspresif yang bisa dijadikan batik gaul oleh konsumen muda usia.

Industri batik di Madura tidak kalah  bergairahnya dengan sentra batik lain di Indonesia seperti Solo, Yogyakarta, Cirebon, atau Pekalongan.  Kerajinan ini merupakan budaya yang diwariskan turun-temurun. Sentra-sentra Batik di Madura bisa ditemukan Pamekasan, Bangkalan, Sumenep, dan Sampang.

Berbeda dengan batik Jawa pada umumnya, Batik Madura memiliki keindahan warna dan corak yang bebas dan unik dengan warna lebih cerah dan berani. Merah, kuning, hijau dan biru berpadu tegas dengan warna yang makin lama semakin cerah.  Warna dasar kain seringkali bernuansa merah, sesuai karakter masyarakat setempat yang keras dan kuat.

Yang istimewa, masih banyak batik Madura yang diberi pewarnaan dengan soga alam. Warna merah biasanya diambil dari kulit mengkudu, warna biru berasal dari daun tarum, sementara untuk mendapatkan efek warna hijau diambil kulit mundu ditambahkan tawas dan warna kuning dari pohon jambal (Amelia). Batik pesisiran memiliki motif dan warna berani, sementara batik Madura pedalaman bercorak klasik dan cenderung berwarna redup.

Di Pamekasan, Anda dapat berburu motif batik dengan warna-warna yang tajam dan cerah seperti Sekarjagat, Keong Mas, Matahari, Daun Memba (daun mojo), Gorek Basi, keraben sapeh yang beberapa di antaranya sudah dipatenkan. Di Sumenep, Anda dapat menemukan batik dengan corak satu warna saja meskipun tetap bernuansa warna cerah.

BACA JUGA :  Pesona Wisata Surabaya

Namun di Bangkalan-lah perburuan akan terpuaskan. Di  suatu sentra bernama Tanjungbumi yang berjarak 50 km dari kota, anda akan menemukan batik gentongan yang teknik pembuatannya sangat khas. Sesuai lokasinya, Batik Bangkalan termasuk kategori batik pesisiran dan bukan batik pedalaman.  Oleh karena itu, coraknya beragam dan berwarna cerah.

Ada lebih dari seribu jenis motif batik di sana. Nama motifnya terkait gambar apa dan cara pewarna yang dikonsonankan dengan bahasa daerah setempat. Misalnya ramo, banjar ramo, rongterong, perkaper, rawan, serat kayu, panca warna, dan berbagai nama eksotis lainnya. Beberapa motif klasik yang sudah menjadi koleksi berumur ratusan tahun antara lain mano’ juduh tarpotè kellèngan, tarpotè bangan, burubur”, rawan mèra”, tana pasèr mèra.

Batik Gentongan Corak Khas Madura
Batik Gentongan Corak Khas Madura

Batik tulis Bangkalan dikerjakan selama 1 minggu dan dijual dengan kisaran harga puluhan hingga ratusan ribu. Sementara batik tulis sutranya dijual ratusan sampai lebih dari sejuta rupiah. Namun yang paling mahal dan terkenal adalah Batik Gentongan yang bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Proses pembuatan sehelai batik gentongan sendiri menghabiskan waktu berbulan-bulan bahkan bisa mencapai satu tahun. Motifnya rumit dan detil. Untuk mendapatkan satu warna saja memerlukan perendaman minimal 6 minggu di dalam gentong khusus. Setelah digambar,  batik belum jadi itu direndam lagi selama 3 sampai 4 bulan.

Pewarnaan adalah proses paling penting dan keberhasililannya merupakan indicator kualititas karena  seperti halnya batik Jawatimuran lain, batik Madura sangat kaya warna. Untuk warna biru, makin tua yang dikehendaki, dibutuhkan perendaman makin lama.  Ada juga warna tertentu yang didapatkan dengan disikat berulang-ulang setelah proses perendaman.

Selama perendaman di dalam gentong, setiap hari  kain diangkat dan diangin-anginkan untuk kemudian direndam lagi. Namun  ada pantangan yang harus dipatuhi para perajin. Jika ada tetangga atau orang sekitar yang meninggal, proses pengangin-anginan itu harus dihentikan selama tujuh hari. Jika pantangan itu dilanggar, dipercaya wana kain yang dihasilkan akan pudar.  Selain itu mereka juga rajin meletakkan sesajen setiap tujuh bulan sekali dengan  harapan hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.

Batik gentongan hanya bisa diproses di  Tanjungbumi lantaran air perendaman berkapur tinggi yang digunakan untuk merendam sangat menguntungkan bagi proses pewarnaan. Jika dilakukan di daerah lain dengan air setempat, warna yang dihasilkan tidak akan sebagus gentongan Tanjungbumi.

Banyak yang tidak bisa membedakan warna alami kain gentongan dengan hasil pewarnaan kimia. Namun  jika anda beruntung, batik gentongan asli biasnaya masih menyisakan aroma rempah-rempah hasil perendaman. Dan berbeda dengan batik halus berpewarna sintetis,  warna batik gentongan asli makin lama makin cemerlang kendati kainnya telah rapuh. Saat ini batik gentongan termasuk yang paling banyak diminati para kolektor.

Wisata Kuliner Nasi Petis Madura

Wisata Kuliner Nasi Petis Madura
Wisata Kuliner Nasi Petis Madura

Jalan-jalan tentu tidak lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Jika anda penggemar masakan Jawa Timur yang eksotik, tahukah anda bahwa sebagian besar kulinernya berasal dari Pulau Madura?  Anda patut mencoba beberapa di antaranya.
Di Bangkalan ada nasi Serpang yang unik karena menggabungkan semua unsure pulau Madura pedalaman maupun pesisir. Nasi, Pepes ikan tongkol, sambal goreng kerang, soun bumbu kecap,  telur asin masir, sambal terasi, kerupuk rambak bumbu rujak, dendeng daging sapi Madura, kripik paru dan rempeyek teri kacang.  Di Gresik, nasi Serpang ini mengalami modifikasi menjadi nasi Krawu. Unsur-unsurnya mirip karena creator nasi Krawu  adalah  orang-orang Madura yang merantau ke Gresik.

Nasi Serpang lebih banyak dijumpai di seputar Pecinan, Bangkalan  yang berjarak sekitar 18 km dari Pelabuhan Kamal.  Untuk mendapatkannya anda harus bangun pagi-pagi karena para penjualnya hanya berjualan selepas subuh sampai sekitar jam 8 pagi. Maklum saja lokasi yang ditempati biasanya emperan toko-toko seputar Pecinan tersebut.

Kuliner bergenre nasi yang lain adalah Nasi Petis Madura. Ramesan nasi ini terdiri dari  nasi putih, telur petis, empal, paru goreng, semur daging sapi yang empuk, dan sambal pedes. Semurnya dimasak dengan bumbu jintan sehingga rasanya lebih mantap.

Soto Khas Madura

Soto Khas Madura
Soto Khas Madura

Soto Madura sudah banyak dikenal di mana-mana. Namun yang unik adalah soto Sabrang yang menghadirkan sabrang alias singkong dan kacang hijau dalam kuahnya. Ada lagi Kaldu Kaskus yang merupakan gulai dari otot sapi yang biasa disebut Kaskus dengan sedikit campuran kacang hijau. Kaldu Kaskus ini  biasanya disajikan bersama sepiring ubi yang dibuat dari semacam perkedel dan sepiring lontong. Jangan lupa mengucurinya dengan perasan jeruk nipis dan sambal agar rasanya lebih segar.

Anda pasti sudah sangat akrab dengan sate Madura. Para perantau asal Madura membawanya ke seluruh pelosok tanah air. Namun di daerah Pamekasan, anda akan menemukan jenis sate yang disajikan dalam potongan sangat kecil seukuran lalat. Karena itu mereka memopulerkannya dengan sebutan sate lalat. Begitu kecil ukurannya, satu porsi sate lalat  biasanya tida cukup bagi perut pembelinya. Apakah anda menjadi penasaran setelah mendengar namanya?

Untuk makanan kecil anda  bisa mencari kue Apem Lopes berbumbu gula merah dengan aroma jahe plus kayu manis. Kandungan jahe dan kayu manis ini, selain menambah citarasa juga dipercaya dapat menghilangkan cape setelah seharian bekerja karena menghangatkan badan.

Kuliner lain yang layak dijadikan oleh-oleh adalah kripik paru dan rengginang lorjuk. Kripik paru Madura sangat gurih dengan irisan tipis-tipis sehingga ketika digoreng dengan lapisan tipis tepung menjadi sangat krispi. Rengginag lorjuk sangat terkenal kekhasannya. Sejenis kerupuk ini terbuat dari ketan dan kerang dan hanya diproduksi Madura.

Wisata Alam Madura

Wisata Alam Madura
Wisata Alam Madura

Sekilas,  Madura hanyalah sebuah kepulauan yang tandus dan panas. Siapa sangka di balik kegarangan’-nya itu Madura menyimpan pesona alam yang masih perawan?  Satu wilayah yang banyak memilikim potensi wisata alam adalah Kabupaten Sumenep. Daerah ini memiliki ragam objek wisata, mulai pantai, kepulauan, keraton, masjid peninggalan hingga sejumlah situs makam raja-raja Madura masa silam.

BACA JUGA :  Pesona Wisata Jakarta Pantai Muara Gembong

Primadona wisata Kabupaten Sumenep adalah   jajaran pulau dan luas perairan sekitar 50.000 kilometer persegi yang disebut Island Resot.  Di deretan timur Pulau Madura, berbanjar kepulauan Kangean menjuluk pada nama pulau paling besar.  Selain itu masih ada pulau Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang dan Pulau Raja. Island Resort menawarkan kesunyian yang indah.  KHusus dari Kangean anda bisa membawa pulang ayam bekisar atau ukiran kayu jati

Sunset Di Taman Laut Mamburit dan Gilibadak

Menikmati Sunset Taman Laut Mamburit
Menikmati Sunset Taman Laut Mamburit

Di Taman Laut Pulau Mamburit dan Gilibadak, pelancong bisa menyelam di taman laut yang masih asli. Angin yang besar sering dimanfaatkan untuk  berbagai event surfing, nasional maupun internasional. DI Taman Laut Gililabak Sumenep, Anda Dapat Menikmati Sunrise Yang Indah.

Di Sumenep terdapat kraton yang sampai sekarang masih utuh tanpa sentuhan renovasi sama sekali. Meski arsitektur bangunan kraton merupakan paduan Jawa-Cina, namun tak sedikit  terdapat ornament yang terpengaruh  gaya Islam dan Eropa. Konon pembangunan keraton ini langsung dilakukan oleh tenaga arsitektur dari Cina.

Tak jauh dari kraton,  hanya menyeberang alun-alun, kita bisa menyaksikan Masjid Agung yang  megah.  Serupa dengan bangunan kraton, bentuk masjid ini juga merupakan alkulturasi budaya Islam, Cina, dan Eropa. Masjid Agung Sumenep merupakan salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia dengan corak arsitektur khas.

Menikmati Sunset Taman Laut Gilibadak
Menikmati Sunset Taman Laut Gilibadak

Di Kabupaten Pamekasan terdapat  obyek-obyek wisata Alam, Budaya, Bahari, kerajinan dan belanja. Anda bisa berwisata ke Pantai Talang Siring (10 km ke arah timur dari kota Pamekasan), Pantai Jumiang , atau  Pantai Batu Kerbuy di Kec Pasean. Sementara di Kecamatan Tlanakan yang berjarak 4 km dari pusat kota terdapat jangka alias api nan tak kunjung padam.

Di desa Padelegan , kec Pademawu pada hari-hari tertentu diadakan upacara Petik laut yang  merupakan pesta rakyat,   sebagai ekspresi bersyukur dalam mengarungi lautan. DIawali dengan acara keagamaan, upacara ini biasanya  diakhiri dengan pagelaran seni dan budaya setempat.

 

Jembatan Suramadu, Ikon Wisata Baru Surabaya – Madura

Jembatan Suramadu, Ikon Wisata Baru Surabaya – Madura
Jembatan Suramadu, Ikon Wisata Baru Surabaya – Madura

Sudah diduga,  Jembatan Suramadu akhirnya menjadi ikon bagi provinsi Jawa Timur. Jembatan yang menghubungkan selat Jawa-Madura ini akhirnya berkembang menjadi obyek wisata baru yang bisa diandalkan untuk menarik wisatawan. Anda akan terkesima dengan pendaran ribuan cahaya yang indah jika melewatinya di waktu malam.

Pembukaan Jembatan SUramadu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009.  Dengan panjang keseluruhan 5,438 kilometer, jembatan Suramadu merupakan jembatan terpanjang di Indonesia.  Saat ini. Jembatan terpanjang di Asia Tenggara ada di Thailand yaitu Bang Na Expressway yang memiliki panjang 54 km.

Jembatan Suramadu
Jembatan Suramadu

Pembangunan jembatan Suramadu dibangun dalam tiga sisi. Yaitu sisi Bangkalan dan sisi Madura, dan pada waktu bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge.  Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yag ditopang menara kembar setinggi 140 meter. Sementara jembatan penghubung menggunakan konstruksi penyangga beton kotak.

Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintas Selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut. Bagian inilah yang paling sulit dikerjakan sehingga penyelesainnya menjadi terhambat dan biaya pembangunannya pun membengkak.  Sampai siap operasional, jembatan Suramadu ini diperkirakan telah menelan biaya sekitar Rp 4,5 triliun.

Selain konsorsium nasional, pembangunan jembatan Suramadu dipandegane perusahaan konstruksi dari China. Itulah sebabnya pembuatan alas jembatan yang disebut dengan steel box girder (SBG) dilakukan di Tiongkok. Pengiriman alas ini tidak sederhana dan makan waktu cukup lama. Diperlukan 4 kali pengiriman selama 30 hari, sebelum alat itu dirakit lengkap di Gresik.

Ada rencana melengkapi jembatan Suramadu dengan pembangkit listrik mandiri yang berasal dari tenaga angin. Maklum saja, setiap lampu di jembatan Surabadu butuh daya 500 watt.  Dengan jarak antar tiang lampu 25 meter, Sutan Kasidar, Ketua Asosiasi Ketenenagalistrikan Indonesia (Aklindo) Jawa Timur , menghitung akan dibutuhkan investasi minimal Rp5,5 miliar untuk 110 tiang karena setiap tiang butuh biaya sekitar Rp 50 juta.

 

Suku Perantau Asal Madura

Suku Perantau Asal Madura
Suku Perantau Asal Madura

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur.  Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.250 km2,  terdiri dari 50 pulau, baik yang berpenghuni maupun tidak. Tanahnya kurang subur, terdiri dari bukit-bukit cadas tanah kapur dan tidak banyak sungai.

Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar, sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, banyak juga yang tinggal di bagian timur Jawa Timur -biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Paling banyak mereka bermukim di sekitar Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember. Namun uniknya jarang di antara mereka yang bisa berbahasa Jawa.

Orang Madura juga banyak yang bermigrasi/transmigrasi ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jabodetabek. Banyak juga yang menjadi TKI ke Timur Tengah khususnya ke Saudi Arabia. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya tidak baik untuk bertani. Mereka senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi,Tekonokrat,Biokrat,Mentri atau Pangkat tinggi di dunia militer.

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifat temperamental dan mudah tersinggung. Harga diri  adalah masalah hidup mati bagi orang Madura. Mereka memiliki peribahasa angok pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata), yang melahirkan tradisi carok. Namun sifat positifnya mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.