Tuesday , December 12 2017
Home / Wisata Jawa / Pesona Jawa Timur / Explore Jejak Kejayaan Kerajaan MAJAPAHIT di Trowulan Mojokerto

Explore Jejak Kejayaan Kerajaan MAJAPAHIT di Trowulan Mojokerto

Explore Jejak Kejayaan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Pertengahan Juli 2011 lalu saya mewujudkan keinginan untuk pergi wisata ke Trowulan. Sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dalam rangka mengeksplor jejak kejayaan dan kemegahan kerajaan Majapahit.

Ya betul! Kerajaan Majapahit yang termashur itu.  Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada (1350-1389 M) kerajaan ini membahana dengan Sumpah Palapanya. Saya percaya di benak kita tidak pernah lupa dengan nama kerajaan yang wilayahnya seantero Nusantara, hingga sebagian Asia Tenggara ini. Sejarahnya selalu kita pelajari di bangku sekolah. Bahkan anak-anak saya juga masih mempelajarinya hingga kini. Untuk mengeksplor jejak kerajaan Majapahit ini saya membekali dengan buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama karya Prof. Slamet Muljana. Negarakretagama adalah kitap karya Empu Prapanca yang memaparkan kebesaran kerajaan Majapahit hingga ke Cina.

Daftar Isi :

Wisata Sejarah Kerajaan Majapahit

Museum Trowulan Pusat Informasi Majapahit

Sejarah, Wilayah Kekuasaaan dan Keruntuhan Majapahit

Restorasi Kerajaan Majapahit

Ditemukan Masa Gubernur Raffes 1811

Kolam Segaran

Kini Masih Sering Ditemukan Sendok Emas

Gapura Wringin Lawang

Gerbang Masuk Kediaman Gajah Mada

Gapura Bajang Ratu

Pintu Belakang Majapahit

Candi Brahu

Untuk Upacara Waisak

Candi Gentong

Dibangun Minak Jingga Untuk Ratu Kencana Wungu

Candi Tikus

Kolam Pemandian Puteri Kerajaan

 

Dari Stasiun Kereta Api Surabaya saya mencari angkutan menuju terminal bus dan melanjutkan perjalanan menuju Mojokerto dengan bus jurusan Surabaya – Solo. Di Mojokerto sahabat saya, saya, Arifin S, sudah menunggu. Dia sahabat dekat saya masa kuliah di Univ. Brawijaya Malang, yang tinggal di Mojosari, sekitar 5-6 km dari Trowulan. Cak Ipin, begitu saya menyebutnya, siap mengantar saya keliling napak tilas jejak kerajaan termegah yang situsnya mencapai 100 kilometer persegi ini. Wuih, luasnya. Rasanya perlu waktu tiga sampai empat hari untuk berkeliling dan blusukan  ke seluruh area situs yang ada secara cermat dan mendalam.

Bagi Anda yang berkendaraan pribadi atau kendaraan umum, perjalanan menuju Trowulan tentu saja sangat mudah. Wilayah ini terletak di pinggir jalan utama Surabaya-Solo. Tepatnya, sekitar 13 km dari kota Mojokerto ke arah Jombang. Dari Surabaya jaraknya sekitar 62 km. Sedang dari Kota Jombang jaraknya sekitar 15 km. Kita bisa naik bus dari Surabaya atau Solo dan turun di pertigaan Trowulan. Kernet dan kondektur bus jurusan ini sudah hapal pertigaan Trowulan. Dari sini banyak motor ojek yang siap mengantar Anda keliling Majapahit. Bila Anda berkendaraan pribadi tinggal ikuti jalan utama Surabaya – Solo tersebut, maka akan sampai pertigaan Trowulan. Selanjutnya tinggal masuk ke komplek situs kerajaan Majapahit.

Menurut buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama (Kakawin Nagarakertagama, kitab ini aslinya ditulis oleh Mpu Prapanca), pusat kerajaan Majapahit berada di Trowulan ini. Dipaparkan, keraton Majapahit dikelilingi dengan tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Di setiap sudut ada pos tempat para ponggawa berjaga-jaga. Pintu gerbangnya berdiri megah dan kokoh berupa gapura agung dengan pintu kayu besar berukir indah.

Di dalam komplek keraton Majapahit sendiri banyak bangunan megah dengan tiang-tingnya yang tinggi dan berukir. Bangunan-bangunan tersebut memiliki beragam fungsi. Ada istana kerajaan, bangunan  untuk balai pertemuan, perumahan dan kediaman keluarga raja serta para punggawa kerajaan, bangunan kediaman para bhiksu dan tempat suci.Tentu saja ada lapangan terbuka semacam alun-alun, tempat berlatih olah kanuragan para prajurit. Juga taman-taman, pasar, jalan-jalan keraton, rumah-rumah penduduk. Bahkan ada semacam kanal-kanal dan kolam besar yang kini dikenal sebagai Segaran. Gambaran kemakmuran dan kebesaran kerajaan Majapahit ini tertuang pula pada catatan China abad-15 dan catatan penjelajah Eropa pada abad 16.

Saya membayangkan, wah, wah… betapa besar dan megahnya kerajaan yang dididirkan oleh Raden Wijaya (1293 M) bersama para prajurit dan Adipati Sumenep Ariawiraraja di hutan Tarik, sebelah timur Sungai Brantas ini, pada masa kejayannya. Saya pun sudah membayangkan akan menemukan situs-situs megah layaknya candi Prambanan, Borobudur atau komplek Keraton Ratu Boko di Jawa Tengah. Inilah antara lain yang membuat saya semangat dan antusias mengeksplor jejak kerajaan Majapahit di Trowulan.

Sayangnya, kami sudah kesorean tiba di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur yang berada di Trowulan ini. Bangunan luas dan panjang ini, dulunya dikenal sebagai Museum Trowolan.

“Museumnya sudah pindah, Mas! Ke Desa Trowulan. Ke arah sana, masuk sekitar 1 kilometer,” terang seorang satpam sambil menujukkan arah Desa Trowulan. “Di sini hanya kantor saja.”

Saya menoleh kesana-kemari. Mata saya berkeliling  memperhatikan bangunan dengan banyak arca-arca batu dan keramik. Ada yang besar setinggi orang dewasa. Ada pula kecil-kecil mulai segenggaman hingga sebesar bola basket, juga stupa-stupa seperti yang banyak terlihat di Borobudur.

Dalam bukunya Prof Muljana disebut, situs Trowulan ini terdiri 27 candi dan 32 waduk, namun dari informasi Pak Satpam saya dapat gambaran baru belasan situs yang ditemukan dan layak dikunjungi. Lainya masih tertutup atau ditutup dalam rangka restorasi.

Dari belasan situs terebut diantaranya: Situs Yoni Klinterejo, Gapura Wringin Lawang, Candi Gentong, Candi Brahu, Makam Putri Campa, Makam Panjang, Pusat Informasi Majapahit, Kolam Segaran, Candi Minak Jingga, Gapura Bajang Ratu, Situs Pemukiman Segaran, Pendopo Agung, Situs Sentonorejo, Candi Tikus, Umpak, Candi Kedaton dan Sitinggil, serta Makam Troloyo.

 

Wisata Sejarah Kerajaan Majapahit

Salah satu kerajaan terbesar di Indonesia adalah Kerajaan Majapahit. Terletak di Pulau Jawa bagian timur, hingga kini peninggalan kejayaan dari dinasti Majapahit masih bisa kita nikmati. Meski sitgus kerajaan Majapahit ini tak semegah Prambanan dan Borobudur, tempat bersejarah ini layak dijadikan referensi bagi para wisatawan yang ingin menambah wawasan serta pengetahuan.

Ditempat ini Anda dapat menemui peninggalan masa lalu, berupa candi-candi, garpura-gapura dan juga kolam segaran yang diyakini sebagai tempat mandi keluarga kerajaan majapahit. Selain menawarkan eksotisme peninggalan kerajaan majapahit, anda juga bisa mencicipi kuliner khas Mojokerto yang menggugah selera.

Sebelum Anda menapak tilas jaman kejayaan Majapahit, tidak ada salahnya untuk kembali mengulas tentang kejayaan kerajaan Majapahit tempo dulu.

Asal Nama Kerajaan Majapahit

Nama Majapahit  diambil dari nama pohon Maja yang banyak tumbuh di hutan Tarik. Hal ini berdasarkan Kitab Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, dan Kidung Harsa Wijaya yang menceritakan berdirinya Kerajaan Majapahit. Tanggal kelahiran kerajaan Majapahit bertepatan dengan penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bila dihitung bertepatan dengan tanggal 10 November 1293.

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit

Wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit meliputi seluruh Jawa (kecuali tanah Sunda), sebagian besar P. Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Indonesia bagian timur hingga Papua. Luasnya kekuasaan Majapahit pada masa keemasannya, menjadikan Majapahit kerajaan terbesar di Indonesia. Perluasan wilayah ini dicapai berkat politik ekspansi yang dilakukan oleh Raja Hayam Wuruk bersama Maha Patih Gadjah Mada. Pada masa inilah Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Keruntuhan Kerajaan Majapahit

Sepeninggal Raden Wijaya, Kerajaan Majapahit dilanda beberapa pemberontakan. Deretan pemberontakan tersebut antara lain ialah pemberontakan Ranggalawe, Sora, dan Kuti selama masa pemerintahan Jayanegara (1309-1328), serta pemberontakan Sadeng dan Keta pada masa Tribhuwanatunggadewi (1328-1350). Pemberontakan baru dapat berakhir pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Pada masa Raja Hayam Wuruk inilah Majapahit mecapai puncak kejayaan. Setelah masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk, pamor Kerajaan Majapahit semakin menurun. Pada tahun 1522, Kerajaan Majapahit pun goncang dan runtuh akibat terjadinya perang saudara. Selain itu, faktor yang juga mempengaruhi runtuhnya kerajaan Majapahit ialah munculnya kerajaan Malaka dan berkembangnya kebudayaan Islam.

Museum Trowulan, Pusat Informasi Majapahit Masa Lalu

Museum ini didirikan pada tahun 1987.  Luasnya mencapai 5,7 hektar. Ada gedung tertutup, gedung terbuka, taman dan koleksi luar ruang, kolam serta lapangan. Ratusan puluhan ribu artefak jejak Majapahit tersimpan disini.

Hari itu selain kami berdua sebagai pengunjung, ada beberapa mahasiswa Universitas Indonesia yang sedang mengadakan penelitian. Banyak sekali arca, keramik dan gerabah, batu-batu, senjata, foto dan gambar yang dipamerkan. Berbagai artefak dan temuan arkeologi ini ditemukan di kawasan Trowulan. Untuk memudahkan informasi arkeologi bagi pengunjung juga dipajang banner dan neon boks yang menawan. Sayang saya kehabisan buku atau brosur tentang Museum Majapahit ini, sehingga cuma bisa memeloti benda-benda kuno yang disusun rapi tersebut.

Di areal gedung terpampang tulisan “Dilarang Memotret”. Untungnya saya datang sebagai wartawan, sehingga saya diijinkan memotret bagian-bagian yang terbatas. Selanjutnya dari taman, saya ganti lensa kamera dengan tele. Lumayan untuk berbagi dengan Anda.

Restorasi Kerajaan Majapahit, Ditemukan Masa Gubernur Raffes 1811

Reruntuhan kota Majapahit di Trowulan dilaporkan pada abad ke-19 oleh  Gubernur Jenderal  Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Saat itu kawasan ini ditumbuhi hutan jati yang lebat sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan survei yang lebih terperinci.

Pada tanggal 24 April 1924, RAA Kromodjojo Adinegoro, mantan Bupati Mojokerto bersama Henry Maclaine Pont, seorang arsitek dan arkeolog Belanda, mendirikan Oudheidkundige Vereneging Majapahit (OVM), sebuah yayasan yang bertujuan meneliti peningggalan Majapahit. OVM selanjutnya membuat gudang penyimpanan berbagai artefak dari Trowulan di tepi jalan Mojokerto-Jombang Km 13. Penemuan berbagai artefak hasil penggalian dan penemuan tak sengaja oleh penduduk jumlahnya sangat banyak, sehingga gudang pun diperluas dan dijadikan museum pada 1926. Museum ini disebut Museum Purbakala Trowulan.

Tahun 1942, museum ditutup karena Maclaine Pont ditawan Jepang. Sejak itu pengelolaan museum berganti-ganti nama dan kini dikelola oleh Suaka dan Peninggalan Sejarah Purbakala Jawa Timur. Oleh karena itu artefak-artefak pun berasal dari seluruh Jawa Timur, meskipun terbanyak adalah dari Trowulan. Tahun 1987 lokasi museum dipindah menempati gedung baru Balai Penyelamatan Trowulan yang lebih luas. Selanjutnya disebut Pusat Informasi Majapahit (PIM), sejak 1 Januari 2007. Kawasan Trowulan kini telah diusulkan untuk menjadi kawasan Warisan Dunia UNESCO.

Kini museum tidak hanya menyimpan dan memamerkan peninggalan arkeologi dari masa Majapahit, tetapi juga menampilkan berbagai temuan arkeologi yang ditemukan di seluruh Jawa Timur. Mulai dari era raja Airlangga, Kediri, hingga era Singasari dan Majapahit.

Di antara koleksi museum ini terdapat salah satu koleksi terkenal, yakni arca Raja Airlangga yang digambarkan sebagai dewa Wishnu tengah mengendarai Garuda, dari Candi Belahan. Juga sebuah arca bersayap yang dianggap sebagai perwujudan Raja Blambangan Menak Jinggo. Beberapa bagian dari bangunan candi yang ditemukan dari situs di Ampelgading Malang serta Sebuah patung yang menggambarkan kisah Samodramanthana atau “Pengadukan Lautan Susu” yang terukir sangat indah.

Kolam Segaran, Kini Masih Sering Ditemukan Sendok Emas

Lokasinya sekitar 500 meter arah selatan dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di desa Trowulan. Kolam berbentuk persegi panjang ini ukurannya sekitar 375 x 175 meter persegi yang dikelilingi tembok batu bata. Wow… besar sekali bila disebut sebagai kolam. Rasanya lebih cocok disebut situ atau danau. Namun begitulah namanya Kolam Segaran.

Saat kami berkunjung, airnya penuh melimpah. Kabut menyelimuti sebagian permukaan air. Inilah barangkali bagian keunikan kolam yang dibangun 7 abad silam. Beberapa orang sedang asik duduk-duduk sambil memegangi joran pancing. Bila datang lebih pagi ada juga orang yang sedang menjala. Hasilnya, ikan-ikan wader kecil yang bisa kita nikmati di warung-warung pinggir segaran dengan menu special, sambel wader. Mak nyus!

Wah dalamnya berapa meter ya? “Ndak tahu, Mas. Dalam sekali,” jawab salah seorang pemancing. Saya berdiri di pinggir kolam menikmati angin bertiup yang membawa kabut. Terasa sedikit dingin. Selain tembok keliling berundak empat, Kolam Segaran juga memiliki saluran pembuangan.

Konon terkadang diantara para penjala ikan di Kolam Segaran melihat benda berkilau seperti sendok emas di dalam jaring. Sayangnya, ketika benda itu akan diambil tiba-tiba lenyap. Mereka yakin, sendok emas itu benda gaib peninggalan Majapahit masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk.

Kisah yang beredar di masyarakat, pada masa jayanya Prabu Hayam Wuruk, lebih suka menjamu para tamunya di pinggir Kolam Segaran yang asri ini. Jamuan dengan aneka sajian makanan dan tarian tersebut tentu saja menggunakan peralatan makan yang mewah. Piring dan mangkok dari porselin mahal serta sendok dan peralatan lain dari emas dan perak. Nah, untuk menunjukkan kebesaran dan kemakmuran Majapahit, maka usai jamuan makan Prabu Hayam Wuruk dan para pembesar kerajaan ramai-ramai melemparkan peralatan makannya ke Kolam Segaran. Byuur..! Tinggallah rombongan sang tamu terbengong-bengong.

Wah.., wah.. hebat benar ya Hayam Wuruk itu. Akan tetapi kira-kira setelah jamuan makan rampung, lantas seluruh tamu kembali ke negaranya, peralatan makan dari emas, perak dan porselin mahal tersebut diperintahkan untuk diambil lagi, tidak ya? Entahlah! Yang pasti penduduk sekitar meyakini, benda-benda berkilau yang kadang nyangkut di jalanya adalah benda-benda ghaib peninggalan Majapahit.

Kolam Segaran, pertama kali ditemukan oleh Ir. Mac Lain Pont tahun 1926. Sumber airnya berasal dari sumber, air yang masuk ke kolam dan air hujan. Diduga dulu kolam ini berfungsi sebagai waduk dan penampung air, tempat mandi dan kolam latihan renang prajurit Majapahit, serta bagian taman hiburan tempat para bangsawan Majapahit menjamu tamu kebesaran.

Menurut penelitian Tjahja Tribinuka, pengajar di arsitektur ITS, wilayah kerajaan Majapahit dahulu dibuat dengan kanal-kanal berpola grid. Kanal-kanal dibuat cukup lebar, 20-30 meter, dengan kedalaman 4 meter. Total panjang kanal yang ditemukan adalah 18 kilometer. Pembatas dari kanal besar tersebut adalah susunan batu-bata tanpa spesi, sedangkan air yang memenuhi kanal diambilkan dari sungai-sungai dan diatur melalui kolam besar (situs segaran).

I Wayan Gede A.W, SST. Par dalam papernya Bangunan Air di Situs Majapahit memaparkan, Kolam Segaran adalah bagian dari 40 waduk yang dibangun mengitari wilayah keraton Majapahit.

Gapura Wringin Lawang, Gerbang Masuk Kediaman Gajah Mada

Gerbang ini tampak megah menjulang. Berada di Dusun Wringinlawang, Desa Jatipasar, Trowulan. Tingginya sekitar 16 meter dengan panjang 11,2 meter dan lebar 6,75 meter. Bentuknya seperti sebuah candi terbelah dua. Sering disebut sebagai Candi Bentar. Hingga kini gapura-gapura jalan masuk desa atau gerbang perkantoran di Mojokerto, bahkan di Jawa Timur banyak mengadopsi bentuk Candi Bentar ini.

Gapura yang menghadap timur barat ini dibuat dari bahan bata merah dengan lorong tengahnya berjarak 3,5 meter. Gapura yang dibangun pada abad ke-14 M ini, diperkirakan menjadi pintu perbatasan menuju pusat kota Majapahit. Juga diyakini  sebagai gerbang menuju kediaman Mahapatih Gajah Mada.

Pada sisi timur dan barat gapura masih ada sisa-sisa batu bata yang diduga bekas anak tangga. Sedang di sisi utara dan selatan juga ditemukan sisa-sia struktur bangunan yang diperkirakan sebagai bagian tembok keliling. Di sisi barat daya dan tenggara juga ditemukan bekas-bekas 15 sumur tua berbentuk segiempat dan silinder. Sumur-sumur ini dimungkinkan dulunya berfungsi untuk mencuci kaki dan membersihkan diri sebelum memasuki kota Majapahit.

Konon di seputar Wringin Lawang ini sering berkabut tebal di pagi hari. Dahulu kala kabut tersebut digunakan untuk mengelabuhi musuh dan merupakan salah satu strategi prajurit Majapahit. Sayang…, kami tiba di siang hari sehingga tidak bisa menikmati legenda kabut Wringin Lawang.

Dalam laporan Rafles tahun 1815, bangunan ini disebut Gapura Jati Pasar. Selanjutnya Knebel (1907) menyebutnya sebagai Gapura Wringin Lawang karean adanya dua bua pohon beringin besar yang mengapit gapura ini.

Gapura Bentar Wringin Lawang yang sekarang bisa kita nikmati adalah hasil pemugaran tahun 1994/1995.

Gapura Bajang Ratu, Pintu Belakang Majapahit

Hari sudah sore saat kami tiba di jalan masuk Gapura Bajang Ratu. Dari jalan raya Mojokerto—Jombang gapura ini sudah terlihat menjulang, berwarna merah bata. “Wah…uwis (sudah) tutup, Mas!” ujar seorang anak yang sedang bermain di depan pintu masuk. Beberapa temannya yang sedang bermain sepeda pun berhenti dan memandangi kami.

Pagar pintu sudah dikunci namun saya melihat ada pintu kecil yang bisa dibuka. “Mau foto aja oleh tho (boleh kan)?” tanyaku kepada mereka sambil tertenyum.

“O…, lewat pintu itu aja, Mas,” jawab anak yang paling besar sambil menunjuk ke pintu kecil. Mereka pun terus melanjutkan bermain sepeda dan membiarkan kami masuk dan memotret dengan leluasa.

Gapura Bajang Ratu ini juga biasa disebut Candi Bajang Ratu. Lokasinya berada sekitar 200 meter dari jalan raya Mojokerto—Jombang, di Dukuh Kraton, Desa Temon, Trowulan. Diperkirakan candi ini dibangun pada abad 14. Terbuat dari batu bata merah yang disusun berbentuk seperti gapura dengan beberapa ukiran relief.

Dahulu candi ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara, pada tahun 1250 Saka atau sekitar tahun 1328 M. Dalam buku Negarakretagama tempat suci ini disebut sebagai “kembali ke dunia Wisnu”. Entah apa maknanya.

Namun, konon sebelumnya candi ini juga pernah digunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Hal ini didukung adanya relief “Sri Tanjung” dan sayap gapura yang melambangkan pelepasan atau kepergian. Keberadaan candi ini menjadikan kebudayaan yang masih berlangsung  bagi masyarakat Trowulan, yakni jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang.

Saya berfikir, bila gapura atau pintu belakang saja demikian megahnya, berarti gapura depan tentu lebih super megah dan besar lagi. Sayangnya, hingga kini belum ditemukan dimana gapura depan Majapahit tersebut.

Nama Bajang Ratu juga memiliki arti khusus, yakni dalam bahasa Jawa berarti “raja atau bangsawan yang kecil”. Pemilihan nama tersebut dikaitkan dengan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit) dan tulisan yang terdapat dalam serat Pararaton. Ketika dinobatkan menjadi raja, usia Jayanegara masih sangat muda (bujang/bajang), sehingga candi ini diberi nama Bajang Ratu (berarti “raja kecil atau muda”).

Dilihat dari bentuknya gapura atau candi ini merupakan pintu gerbang tipe “paduraksa” (gapura beratap). Secara fisik keseluruhan candi ini terbuat dari batu bata merah kecuali lantai tangga serta ambang pintu bawah dan atas yang dibuat dari batu andesit.

Bangunan candi ini mempunyai 3 bagian: kaki, tubuh, dan atap yang juga mempunyai semacam sayap dengan pagar tembok di kedua sisi. Pada sudut-sudut kaki candi ini terdapat hiasan sederhana, kecuali pada sudut kiri depan dihias relief menggambarkan cerita “Sri Tanjung” Dewi Sekar Tanjung. Di bagian tubuh diatas ambang pintu ada relief hiasan “kala” atau raksasa dengan relief hiasan sulur-suluran. Bagian atapnya terdapat relief hiasan rumit, berupa kepala “kala” diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda, dan relief bermata satu atau monocle cyclops. Fungsi relief tersebut dalam kepercayaan budaya Majapahit adalah sebagai pelindung dan penolak mara bahaya. Pada sayap kanan ada relief cerita Ramayana dan pahatan binatang bertelinga panjang.

Menurut penelitian,  pemilihan lokasi ini oleh arsitek kerajaan Majapahit, mungkin untuk memperoleh ketenangan dan kedekatan dengan alam namun masih terkontrol. Hal ini dengan bukti adanya bekas kanal melintang di sebelah depan candi berjarak kurang lebih 200 meter yang langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit. Artinya lokasi candi terhubung langsung dengan daerah pusat kota Majapahit.

Menurut kepercayaan lokal yang diturunkan dari kebudayaan Majapahit, adalah pamali atau pantangan atau larangan bagi seorang pejabat pemerintahan  melintasi atau memasuki pintu gerbang Candi Bajang Ratu, karena dipercayai hal tersebut bisa mendatangkan nasib buruk.

Waduh…kami telah bolak-balik melewati gapura tersebut. Syukurlah kami buka pejabat setempat. Aman!

Candi Brahu. Untuk Upacara Waisak

Agak beda dengan candi-candi lain di kawasan Trowulan, Candi Brahu ini terlihat gemuk. Boleh dibilang paling besar diantara candi-candi lain. Candi yang konon tempat disemayamkan abu jenazah raja-raja Majapahit (Brawijaya I-IV) ini banyak dikunjungi pejiarah.

Uniknya Candi Brahu ini bentuknya mirip candi Budha karena kea rah puncak menyerupai bentuk stupa. Padahal Majapahit lebih dekat sebagai kerajaan Hindu. Ini menunjukkan pada masa itu toleransi beragama berjalan dengan baik.

Kini di komplek Candi Brahu ini biasa digunakan untuk menggelar upacara Suci Waisak. Setidaknya sekitar 2000-an umat Budha dari Jawa Timur mengikuti upacara Waisak yang dimulai dari Mahavihara Majapahit di desa Bejijong, Trowulan.

Candi Brahu dibangun dari batu bata merah, menghadap ke arah barat. Tinggi candi ini mencapai 25,7 meter, dengn panjang 22,5 meter, lebar 18 meter. Jika dibandingkan dengan candi-candi yang berada di kawasan Trowulan, Candi Brahu adalah yang terbesar, bahkan di Jawa Timur.

Nama Brahu menurut buku Mengenal Peninggalan Majapahit di Daerah Trowulan karya IG Bagus Arnawa, berasal dari kata waharu atau warahu, yaitu bangunan suci seperti disebutkan dalam prasati tembaga Alasant yang ditemukan di Desa Bejijong tak jauh dari Candi Brahu.

Alasanta adalah prasasti yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 861 Saka atau 9 September 939. Dalam prasasti juga disebut Candi Brahu merupakan tempat pembakaran jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih-lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.

Sekitar Candi

Menurut IG Bagus Arnawa, dulu di sekitar candi ini banyak terdapat candi-candi kecil yang sebagian sudah runtuh, seperti Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong. Saat penggalian dilakukan di sekitar candi, banyak ditemukan benda benda kuno macam alat-alat upacara keagamaan dari logam, perhiasan dari emas, arca dan lainnya.

Candi Gentong, Dibangun Minak Jingga Untuk Ratu Kencana Wungu

Candi Gentong yang berdekatan dengan Candi Brahu, bentuknya belum bisa dilihat. Hanya berupa tumpukan batu bata merah yang dinaungi atap seng. Namun arealnya sudah dipagar dan dibuatkan taman.

Diduga candi ini satu komplek dengan Candi Tengah dan Candi Gedong. Dalam rekontruksi dan penggalian Candi Gentong ditemukan stupa dan arca-arca Budha. Candi ini terdiri tiga bagian berbentuk bujursangkar. Besarnya diperkirakan lebih besar dari Candi Brahu.

Masyarakat sekitar menyebut Candi Gentong sebagai sanggar pemelengan. Konon candi ini dibangun oleh Menak Jinggo, Bupati Blambangan sebagai bentuk pemujaan atau pamelengan kepada Ratu Kencana Wungu.

Berdasar analisa carbon dating yang diteliti di Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi Bandung, diketahui, candi ini dibangun pada tahun 1370. Artinya, Candi Gentong berasal dari zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Dari data denah bangunan didukung temuan-temuan arkeologis lain, Candi Gentong dulu merupakan bangunan stupa yang relatif besar di bagian pusat, kemudian dikelilingi oleh stupa-stupa yang lebih kecil.

Candi Tikus, Kolam Pemandian Puteri Kerajaan

Saya mengeryitkan dahi membaca plang namanya, Candi Tikus. Terasa agak aneh. Apa seperti Karni Mata atau Candi Tikus di India, ya? Dimana ribuan tikus bebas berkeliaran, dipelihara dan dipuja di candi tersebut.

“Ya, tidaklah. Masa tikus dipelihara,” jawab petugas candi sambil tertawa. “Nama Candi Tikus berhubungan dengan sejarah penemuannya waktu dulu. Saat pertama kali ditemukan di komplek candi ini banyak sekali tikusnya,” jelas petugas dengan fasih.

Diantara beberapa peninggalan situs Majapahit, Candi Tikus merupakan salah satu candi yang hingga kini masih mengundang perdebatan diantara pakar arkeologi. Hal ini  dikarenakan belum ditemukannya bukti petunjuk mengenai fungsi candi ini.

Letak candi ini di Desa Dinuk, Kecamatan Trowulan sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto atau sekitar 600 m dari Candi Bajangratu. Pertamakali ditemukan tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran candi baru dilakukan menyeluruh pada tahun 1984–1985. Nama ‘Tikus’ hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, candi dengan ronga-rongga di dalam tanah tersebut dihuni ratusan tikus.

Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13-14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.

Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan (kolam pemandian) mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja. Namun pakar lainnya menyebut, bangunan tersebut adalah tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Ditambah adanya menara yang berbentuk “meru” menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Sepintas bangunan Candi Tikus memang menyerupai sebuah kolam pemandian. Berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m yang terbuat dari batu bata merah. Kolam ini di bagian tengahnya ada bangunan menyerupai candi.

Yang menarik letak candi ini berada lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam. Jadi bila Anda ingin mengambil air kolamnya, maka harus menuruni anak tangga.

Di kiri dan kanan kaki tangga  candi ini juga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 m x 2 m dengan kedalaman 1,5 m. Pada dinding luar masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit. Terakhir, candi ini dipugar tahun 1994/1995.

kerajaan majapahit, museum majapahit trowulan, museum majapahit mojokerto, virtual reality museum majapahit, pengertian museum majapahit, pendopo agung, candi bajang ratu, alamat museum trowulan mojokerto, wisata trowulan, siti inggil trowulan, trowulan mojokerto, trowulan majapahit, museum trowulan mojokerto, sejarah museum trowulan, situs trowulan, sejarah trowulan, gapuro wringin lawang, candi tikus, candi brahu, candi gentong, gapuro bentar, gajah mada, gapuro bajang ratu, kolam segaran

Sudjono AF, Arifin S, Asri Damayanti T.

 

About PesonaWisata

Check Also

Pesona Wisata Jawa Timur Kawah Ijen Banyuwangi

Pesona Wisata Jawa Timur Kawah Ijen

Pesona Wisata Jawa Timur Kawah Ijen Pesona wisata. Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *